MACCANews ---- Hari Juang Kartika adalah momen bersejarah bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD). Pada pertengahan Desember 1945 lalu, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Jenderal Soedirman berhasil mengusir tentara sekutu dari Ambarawa menuju Semarang. Sekaitan dengan itu, tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) TNI AD dalam rangka mengenang petempuran Ambarawa.
Meski di bawah guyuran hujan, upacara berlangsung hikmat. Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti bertindak sebagai inspektur upacara. “Palagan Ambarawa merupakan simbol kemanunggalan TNI AD dengan rakyat Indonesia. Hubungan ini bukan hanya sebatas hubungan profesionalitas belaka. Namun lebih dari itu.
TNI AD memiliki hubungan biologis dengan rakyat Indonesia, karena dilahirkan dari rakyat, sehingga senantiasa membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” kata Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti saat membacakan sambutan Kasad Jenderal TNI Mulyono di peringatan Hari Juang Kartika TNI AD di Lapangan Karebosi, Jalan Ahmad Yani, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (15/12/2017).
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengemukakan, Hari Juang Kartika merupakan tekad dan semangat perjuangan untuk menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di lingkup Kodam XIV Hasanuddin sendiri, rangkaian Hari Juang Kartika dimulai dua minggu sebelumnya melalui bakti sosial, karya bakti, dan pembagian sembako. “Kali ini, kita peragakan drama kolosal perjuangan Sultan Hasanuddin. Jadi, kekuatan bangsa itu ada pada perjuangan rakyat. Bagaimana pahlawan Sultan Hasanuddin membela bangsa ini,” kata Mayjen Agus saat diwawancai awak media.
Di era modern saat ini, alutsista memegang peranan penting. Tetapi orang yang dibelakang alat juga penting. Kekuatan kita berbeda dengan bangsa lain. “Kita membangkitkan semangat prajurit bahwa persamaan adalah sebuah keharusan. Kekuatan antara TNI, polri, dan masyarakat Indonesia,” kata jenderal bintang dua di pundaknya ini.
Mayjen Agus mengatakan, ancaman yang Indonesia hadapi sekarang adalah ancaman nir militer. Ancaman itu dari sisi teknologi, media, dan dunia maya. “Ancaman itu ada di kamar kita. Ancaman itu bisa menggrogoti dari dalam. Ancaman berupa narkoba, hedonisme, dan konsumerisme,” kata jenderal berlatarbelakang Kopassus ini.
Sementara itu, Wakil ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Suyitno Widodo mengatakan, peringatan Hari Juang Kartika yang bertema “Manunggal dengan Rakyat TNI AD Kuat” ini menjadi penanda bahwa TNI semakin tak terpisahkan dari rakyat. “LDII sebagai ormas dan bagian dari masyarakat, antusias terhadap pelaksanaan peringatan Hari Juang Kartika ke-72. TNI yang lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat betul-betul punya komitmen untuk menegakkan kedaulatan NKRI,” ujar Widodo yang turut menghadiri upacara.
LDII sebagai ormas, kata Widodo, mengajak masyarakat untuk memiliki kehidupan keberagamaan yang religius dan cinta tanah air. “Kita supaya menjunjung tinggi Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,” kata Widodo.
Usai upacara, prajurit TNI dan masyarakat memeragakan drama kolosal perjuangan Sultal Hasanuddin mengusir penjajah. Selain itu, prajurit Kodam XIV dari berbagai kesatuan memeragakan atraksi bela diri militer Yong Moodo. Bersamaan dengan upacara, diselenggarakan pula kegiatan donor darah dan sunatan massal.
0 komentar: